Minggu, 04 Mei 2014

Dampak Globalisasi Terhadap Identitas Nasional

Enggar Permatasari
12212505
2EA24

Yang disebut dengan identitas nasional merupakan suatu penjelmaan nilai-nilai budaya suatubangsa yang memiliki nilai historis mengenai sejarah panjang dari suatu bangsa. Budaya itukemudian muncul dan mendarah daging dalam nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat yangkemudian tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

Identitas Nasional itu sendiri terdiri dari dua kata, yaitu “identitas” dan “nasional”. Secara etimologi(bahasa), kata identitas memiliki arti ciri-ciri, sifat-sifat,keadaan khusus yang melekat pada suatu halyang menunjukkan jati dirinya. Sedangkan Nasional berasal dari kata ” nasion 
yang berarti bangsa,menunjuk kepada sifat khas kelompok yang memiliki kesamaan semangat, cita-cita, tujuan,ideologi,dan lain sebagainya
Jadi Identitas Nasional itu sendiri dapat diartikan sebagai ciri-ciriatau sifat-sifat tertentu yang dimiliki oleh suatu bangsa yang membedakannya dengan bangsalainnya. Oleh karena ciri-ciri yang terdapat dalam identitas nasional itu, suatu negara mampumenampilkan watak, karakteristik kebudayaan dan memperkuat rasa kebangsaan. Karenakedudukannya yang amat penting itu, identitas nasional harus dimiliki oleh setiap bangsa. Karenatanpa identitas nasional suatu bangsa akan terombang-ambing.

Pada dasarnya, pemahaman akan arti identitas bangsa itu tidak terlepas dari sikap nasionalisme danpatriotisme. Nasionalisme menunjukkan secara psikologis tingkat loyalitas seseorang yangdiwujudkan dalam suatu tindakan nyata. Sedangkan Patriotisme merupakan semangat cinta tanahair dan rela berkorban untuk kemakmuran tanah airnya. Kedua hal tersebut dapatdiimplementasikan misalnya dengan menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari,mencintai dan menggunakan produk dalam negeri, melestarikan budaya daerah, memperkenalkandan mempromosikan produk dan budaya Indonesia di berbagai event internasional, dan lain-lain.

Sebagai negara yang sudah berdaulat berpuluh tahun lamanya, secara teoritis Indonesia sudahmenganggap bahwa dirinya memiliki identitas nasional. Akan tetapi pada kenyatannya fenomenayang terjadi di masyarakat memperlihatkan terjadinya kekritisan identitas tersebut yang mengancamdisintegrasi. Selama ini sebagian besar masyarakat Indonesia masih bingung dengan identitasbangsanya. Hal ini disebabkan karena mereka tidak memahami dengan baik arti dari identitasnasional itu sendiri.

Di tengah arus globalisasi seperti sekarang ini, identitas yang dimiliki bangsa kita akan sangat mudahterkikis dengan adanya pengaruh yang timbul dari pihak luar. Karena tidak mengenali jati diribangsanya dengan baik, masyarakat seakan-akan kehilangan arah. Sehingga ketika budaya-budayabarat masuk ke negara kita ini, rasanya begitu sangat cepat di serap oleh berbagai lapisanmasyarakat.

Arus Globalisasi yang sangat kuat akan mempercepat disintegrasi nasional dan mengancamhilangnya jati diri bangsa akibat perkembangan zaman. Sudah hal yang sangat lazim kita jumpaidalam kehidupan sehari-hari dampak negatif dari arus globalisasi itu.

Sumber :
http://www.scribd.com/doc/86700998/Dampak-Globalisasi-Terhadap-Identitas-Nasional

Golput = Memilih untuk Tidak Memilih

Enggar Permatasari

12212505
2EA24

Sahabat Muda Voa-islam,


Golput lagi naik daun (emangnya ulat?). Setelah ada fatwa MUI yang menyatakan golput haram, banyak reaksi bermunculan. Bukannya takut, beberapa pihak menganggap fatwa ini terlalu berlebihan. Bahkan banyak bermunculan dukungan terhadap golput di beberapa jejaring sosial.
Golput atau golongan putih adalah satu sikap politik yaitu memilih untuk tidak memilih. Ketika di depanmu disajikan air comberan dan air (maaf) kencing untuk diminum, manakah yang akan dipilih? Ketika kita tidak memilih satu pun pilihan air di atas, bukan berarti kita apatis atau pesimis. Sebaliknya, kita optimis bahwa ada air lain yang memang pantas dan layak minum. Tak mengapa kita puasa minum sementara sambil mengupayakan air lain yang lebih halalan thoyiban.
Bijaklah menggunakan hak suara. Golputers dalam hal ini secara bijak menggunakan hak suaranya untuk tidak bersuara ketika yang ada adalah pilihan yang sama-sama tidak baik atau meragukan. Tidak perlu saling mengolok. Diskusi boleh tapi tidak untuk saling menghina. Ketika golputers tidak mengusik mereka yang menggunakan hak suaranya untuk datang dan mencoblos di TPS (Tempat Pemungutan Suara), mengapa pula mereka menghina warga negara memilih untuk tidak memilih?
Menjadi warga negara yang baik tidak selalu harus datang ke TPS kok. Kamu yakin mereka yang datang ke TPS itu orang baik-baik? Mereka yang rajin korupsi, makan uang rakyat, memperjualbelikan keadilan, yang rajin menyuap dan disuap untuk menjadi PNS, dan lain-lain kejahatan yang diperbuat, mereka semua datang ke TPS. Apakah itu mengubah status mereka menjadi warga negara yang baik karena sekadar datang ke TPS? Sempit sekali bila itu tolok ukurnya.
Meskipun tidak datang ke TPS, golputers itu membayar pajak meskipun terpaksa. Bagaimana tidak terpaksa bila uang jaga ujian yang sebesar sepuluh ribu rupiah pun harus terkena pajak sebesar 5%. Makan di gerai cepat saji juga mau tak mau dikenakan pajak sebesar 10-15% dari harga yang tertera. Apa masih kurang baik warga negara yang setia membayar pajak seperti ini?
Tak ada alasan golputers dilarang protes terhadap kebijakan pemerintah hanya karena dia tidak ikut memilih dalam bilik TPS. Bukankah karena tahu bahwa sistem pemerintahan yang ada saat ini membuka peluang besar terhadap kebijakan yang sangat tidak pro rakyat, menjadikan banyak orang memilih untuk golput? Ingat, sistemnya loh ya yang dikritisi dalam hal ini.
Boleh jadi pribadi manusianya baik, mereka yang berusaha untuk duduk di kursi senayan dengan alasan mengubah sistem. Tapi apakah mungkin satu sistem diciptakan untuk merusak dirinya sendiri? Hal apapun yang berusaha masuk ke sistem tersebut ya harus mengikuti aturan main yang diciptakan sistem tersebut. Ibarat air sungai yang keruh, hitam dan bau, maka siapa pun yang masuk ke dalam sungai tersebut, maka otomatis dia akan terwarnai. Sebersih apapun bentuknya ketika datang, jangan berharap bisa bersih saat pulang.
Masih banyak hal yang bisa kita lakukan sebagai wujud peduli kita terhadap negeri ini. Salah satunya ya itu tadi, tidak memilih orang-orang atau partai atau kepala negara yang memang tidak patut untuk dipilih. Tapi ingat keputusan golput kamu jangan sekadar ikut-ikutan saja. Kamu kudu paham benar mengapa harus tidak memilih. Apalagi bila kamu seorang muslim, harus ada alasan syar’i yang melandasi keputusan seseorang dalam berbuat.
Begitu juga bagi kamu yang memutuskan tidak golput. Kami menghargai kok sikap kalian itu. Bila kami tidak melarang kalian mencoblos, mengapa pula kalian sewot ketika kami tidak memilih? Masing-masing kita nanti akan ada perhitungan dan tanggung jawab atas setiap perbuatan yang dilakukan, baik si golput atau tidak.
Wallahu alam. (riafariana)         

SUMBER
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/smart-teen/2014/04/12/29823/golput-memilih-untuk-tidak/#sthash.ATylF19a.dpuf
http://www.voa-islam.com/read/smart-teen/2014/04/12/29823/golput-memilih-untuk-tidak/#sthash.ATylF19a.dpbs